Muhammadiyah di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) telah lama menjadi pilar peradaban, terutama melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di sektor pendidikan. Namun, belakangan ini muncul keresahan yang sulit dibendung: benarkah sekolah-sekolah kita sedang kehilangan "ruh"-nya? Ada kesan kuat bahwa orientasi pendidikan kita mulai bergeser dari mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi sekadar mengejar angka-angka finansial.
Gejala Kehilangan "Ruh" Perjuangan
Pendidikan Muhammadiyah lahir dari rahim keberpihakan kepada kaum mustadh'afin (golongan yang lemah). Namun, ketika pengelolaan AUM di Haltim terjebak dalam pragmatisme, arah pendidikan menjadi tidak tentu. Kita melihat gejala di mana kebijakan sekolah lebih banyak didikte oleh pertimbangan profit daripada kualitas ideologi dan akademik.
- Orientasi "Fulus": Saat manajemen sekolah hanya sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran tanpa dibarengi peningkatan mutu guru dan fasilitas, di sanalah kita sedang menggali kubur bagi visi KH Ahmad Dahlan.
- Komersialisasi yang Hambar: Pendidikan bukan komoditas. Jika siswa hanya dipandang sebagai "pembayar SPP" dan bukan sebagai "calon kader umat", maka nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) hanya akan menjadi pajangan di dinding kelas, bukan karakter yang mendarah daging.
Dampaknya: Pendidikan Tanpa Navigasi
Tanpa "ruh" yang kuat, lembaga pendidikan Muhammadiyah di Haltim akan kehilangan jati dirinya. Dampaknya sangat nyata:
- Lulusan yang Terasing: Siswa lulus tanpa memahami ideologi Muhammadiyah.
- Kualitas yang Stagnan: Karena fokusnya adalah efisiensi biaya demi keuntungan, inovasi pendidikan menjadi mati suri.
- Krisis Kepercayaan: Masyarakat akan mulai melihat sekolah Muhammadiyah tak bedanya dengan lembaga bisnis pendidikan lainnya yang "haus uang".
"Muhammadiyah adalah gerakan Islam, bukan sekadar badan usaha. Jika orientasi materi di atas segalanya, kita sedang mengkhianati amanah pendiri."
Langkah Reorientasi: Kembali ke Khittah
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Halmahera Timur harus segera mengambil langkah tegas untuk melakukan audit ideologi dan manajerial terhadap AUM. Pendidikan Muhammadiyah harus kembali menjadi Pusat Keunggulan, bukan sekadar unit usaha.
- Penyegaran Pengelola: Pastikan mereka yang memegang kendali AUM adalah orang-orang yang selesai dengan urusan perutnya dan memiliki ghirah (semangat) perjuangan.
- Standarisasi Mutu: Fokus pada kualitas lulusan. Fulus (uang) seharusnya hanyalah instrumen penunjang, bukan tujuan utama. Uang harus diputar kembali untuk kesejahteraan guru dan kenyamanan belajar siswa.
Penutup
Kita tidak ingin melihat Muhammadiyah di Halmahera Timur besar secara fisik namun keropos secara substansi. Jika kita tidak segera berbenah dan membuang mentalitas "pendidikan demi fulus", maka kita tinggal menunggu waktu sampai masyarakat meninggalkan kita. Mari kembalikan sekolah Muhammadiyah sebagai ladang amal, tempat menyemai benih-benih pencerahan, bukan sekadar loket transaksi.